Yang Jadi Korban Siapa?
Belakangan ini, saya merasa bekerja itu sangat melelahkan. Apalagi sekarang saya diberikan tanggung jawab sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum di sekolah saya. Tapi makin ke sini, rasanya semakin lelah.
Bukan karena tanggung jawab yang besar. Kalau soal tanggung jawab, saya sebenarnya tidak masalah. Saya justru lebih banyak lelah dengan tingkah pola orang di sekitar.
*****
Dulu, saya punya kebiasaan dan prinsip yang mungkin bagi sebagian orang terdengar sepele. Saya tidak pernah bisa datang terlambat ke suatu acara.
Kita tahu, di Indonesia ada kebiasaan datang terlambat. Kita sering beranggapan bahwa acara juga akan dimulai terlambat. Orang lain mungkin akan terlambat, jadi buat apa datang tepat waktu?
Tapi walaupun saya tahu kemungkinan besar akan seperti itu, saya tetap tidak mau datang terlambat.
Kenapa?
Karena menurut saya, ada sedikit keegoisan di dalamnya. Kita berharap orang lain datang lebih dulu, menunggu kita, dan ketika kita tiba, acara sudah siap dimulai. Saya selalu berpikir, kenapa kita tidak mau menunggu? Kenapa kita tidak mau bersabar? Kenapa harus orang lain yang menunggu kita?
Itu sesuatu yang tidak pernah bisa saya terima.
Walaupun pada kenyataannya ketika saya datang orang belum datang juga, bagi saya itu tetap lebih baik daripada sengaja datang terlambat dengan harapan ketika saya tiba acara sudah siap dimulai.
Menurut saya, kebiasaan seperti itu adalah bentuk keegoisan kecil yang kalau dilakukan terus-menerus akhirnya membentuk budaya yang tidak bagus.
Makan hati? Ya, pasti.
Tapi ........
Mungkin saya lebih bisa memaafkan diri sendiri ketika saya datang tepat waktu, meskipun akhirnya harus menunggu dan merasa kesal. Setidaknya saya tahu bahwa saya sudah melakukan sesuatu yang menurut saya benar. Saya lebih bisa berdamai dengan rasa kesal itu daripada harus datang terlambat, lalu merasa bersalah karena keterlambatan saya sendiri.
*****
Hal lain yang juga belakangan ini cukup membuat saya geram adalah pola kerja yang mungkin sebenarnya bukan hanya terjadi di sekolah saya, tetapi juga di banyak tempat kerja lainnya.
Ketika ada satu orang yang berbuat salah, kemudian muncul anggapan, “Oh, dia saja begitu. Berarti saya juga boleh begitu.”
Ini sering sekali kita temui.
Yang akhirnya terjadi adalah kita menjadi malas karena merasa punya pembenaran. Kita meletakkan tanggung jawab atas diri kita kepada orang lain.
Padahal semestinya tidak seperti itu.
Kita masing-masing harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Kita dibayar, kita digaji, untuk menjalankan tanggung jawab kita. Kalau ada orang lain yang malas, itu adalah tanggung jawab pemimpin untuk menegur dan membina orang tersebut. Jangan menjadikan kemalasan orang lain sebagai alasan untuk kita ikut malas.
Kadang saya heran dengan sikap seperti ini.
Karena ujung-ujungnya bukan hanya membuat kita tidak semangat bekerja, tetapi juga menciptakan iklim kerja yang tidak sehat. Kalau semua orang berpikir, “Kalau dia malas, saya malas juga,” lalu siapa yang akan bekerja?
Kalau semua orang membalas perilaku orang lain dengan perilaku yang sama, akhirnya semuanya akan menjadi seperti itu.
Sama seperti persoalan datang terlambat tadi.
Saya tidak pernah bisa membalas perilaku orang dengan cara yang sama. Kalau orang malas, saya ikut malas. Kalau orang terlambat, saya ikut terlambat. Saya tidak bisa seperti itu.
Bukan karena saya lebih baik dari orang lain.
Tapi karena pada akhirnya, pertama, saya digaji untuk bekerja. Kedua, kalau kita semua melakukan hal yang sama, siapa yang menjadi korban?
Siswa.
Sekolah.
Dan pada akhirnya, masa depan mereka.
Saya berharap semuanya bisa memahami hal sederhana ini. Tapi saya juga sadar, saya tidak bisa mengatur orang lain.
Kita kan sudah dewasa.
Memang, membiarkan orang malas adalah sebuah masalah. Dan kalau pemimpin membiarkan itu, tentu ada tanggung jawab yang harus dipertanyakan padanya. Tapi menjadikan kemalasan orang lain sebagai alasan untuk kita ikut malas, menurut saya, sebenarnya hanya sebuah pembenaran.
Karena bisa jadi, sebenarnya kita memang malas.
Sama seperti persoalan terlambat tadi. Kita bisa saja mengatakan, “Orang lain juga terlambat.” Tapi bukankah itu sebenarnya hanya bentuk egois? Kita mengorbankan orang lain demi membenarkan perilaku kita sendiri.
Begitu juga ketika kita membalas kemalasan orang lain dengan ikut malas.
Yang menjadi korban tetap siswa.
Masa sekolah mereka tidak akan terulang. Waktu mereka terbatas. Dan ketika guru-gurunya justru berlomba-lomba menjadi malas hanya karena melihat orang lain malas, lalu apa yang tersisa?
Habis.
Habis waktu mereka. Habis kesempatan mereka. Dan yang lebih mengkhawatirkan, bisa-bisa kita sedang ikut mengorbankan generasi masa depan kita.
Mungkin tulisan ini bukan untuk menggurui siapa-siapa. Saya juga tidak tahu siapa yang akan membaca tulisan ini.
Saya hanya sedang mencoba mengingatkan diri saya sendiri.
Bahwa profesionalisme seharusnya kita letakkan pada diri kita masing-masing, bukan pada perilaku orang lain.
Karena mau ke mana pun kita pergi, akan selalu ada orang malas.
Di mana pun kita bekerja, akan selalu ada orang yang tidak sempurna.
Akan selalu ada orang yang terlambat, orang yang tidak bertanggung jawab, orang yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Tapi membalas ketidaksempurnaan dan kemalasan itu dengan cara menirunya hanya akan membuat kita menjadi orang yang tidak berkembang.
Dan menurut saya, yang lebih gawat daripada tidak berkembang adalah ketika kita menjadi egois karena perkembangan diri kita dibayar dengan mengorbankan orang lain di sekitar kita.
Jadi, mungkin kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain bekerja.
Tapi setidaknya, kita masih bisa mengatur bagaimana kita bekerja.
Profesionalisme kita seharusnya tidak bergantung pada siapa yang ada di sebelah kita.
Kalau orang lain malas, kita tetap bekerja.
Kalau orang lain terlambat, kita tetap datang tepat waktu.
Kalau orang lain tidak bertanggung jawab, kita tetap bertanggung jawab.
Bukan karena kita ingin terlihat lebih baik dari mereka.
Tapi karena ada orang lain yang mungkin sedang menggantungkan masa depannya pada apa yang kita kerjakan hari ini.

Post a Comment for "Yang Jadi Korban Siapa?"